,,

Welcome and Enjoy,,, in My House (환영받는 ,hwanyeongbatneun)

Rabu, 17 November 2010

“MANAJEMEN LINGKUNGAN”

PEMBAHASAN

1. Mengukur Biaya Lingkungan
Biaya lingkungan adalah biaya yang ditimbulkan akibat adanya kuallitas lingkungan yang rendah, sebagai akibat dari proses produksi yang dilakukan perusahaan. Biaya lingkungan perlu dilaporkan secara terpisah berdasarkan klasifikasi biayanya. Hal ini dilakukan supaya laporan biaya lingkungan dapat dijadikan informasi yang informative untuk mengevaluasi kinerja operasional perusahaan terutama yang berdampak pada lingkungan.
Akuntansi Biaya Lingkungan (ECA) dengan menelusuri 2 jenis :
• Biaya tidak langsung (tambahan lingkungan) yaitu biaya yang harus dialokasikan pada biaya obyek, misalnya biaya pelatihan lingkungan, dan gaji untuk manager eksekutif lingkungan.
• Biaya langsung (tambahan lingkungan) yaitu biaya yang dapat ditelusuri secara langsung dari biaya proyek, misalnya biaya energi dari sebuah produk, gaji, biaya buruh proses, pembelian bahan mentah produksi
Dengan penelusuran tersebut akan ditemukan biaya tersembunyi (hidden cost) yang menyebabkan dampak lingkungan. Adapun kategori biaya yang berhubungan dengan lingkungan :
• Biaya pengawasan emisi dan limbah.
• Biaya pencegahan dan manajemen lingkungan lainnya.
• Biaya penelitian dan pengembangan.
• Biaya nyata yang berkurang
• Penilaian investasi lingkungan yang bertujuan untuk menghitung potensi keuntungan dengan biaya yang efektif.
Penganggaran keuangan lingkungan dengan tahapan :
• Penganggaran operasional keuangan lingkungan yang berfokus pada alur bahan dan energi (tingkat operasional dari organisasi), bertujuan memberikan informasi tentang pengeluaran perusahaan yang berkaitan dengan alur bahan dan energi.
• Penganggaran kapital keuangan lingkungan moneter yang berfokus pada persediaan bahan dan energi, bertujuan mengidentifikasi bahan dan energi yang ramah lingkungan dan kapital.
Beberapa Implementasi Komponen Analisis Ekonomi dalam Audit Lingkungan
 Analisis biaya dan Manfaat
Beberapa faktor yang mendasari diperlukannya valuasi ekonomi adalah karakteristik atau sifat-sifat khas yang melekat dari SDA antara lain ;
• Sifat keterikatan
• Sifat tidak terpisahkan
• Sifat keterpulihan
• Sifat dampak eksternal
Tujuan pokok dilakukannya valuasi ekonomi adalah untuk mengetahui nilai riil sumberdaya yang digunakan. Sedangkan pemberian nilai sumberdaya yang digunakan dilakukan dengan mempertimbanngkan dimensi waktu, karena adanya faktor dimensi waktu dalam pengelolaan SDA dan lingkungan.
Faktor – faktor yang menyebabkan tidak diperolehnya nilai rill (harga sebenarnya) dari sumberdaya yang digunakan antara lain ;
o Sifat – sifat dari sumberdaya itu sendiri
o Adanya pasar yang terdistorsi
o Tidak adanya pasar
Dan pada prinsipnya valuasi ekonomi dilakukan untuk memberikan harga atau memperhitungkan suatu nilai dari sumberdaya yang digunakan dalam bentuk uang.

2. Membebankan Biaya Lingkungan
Produk dan proses merupakan sumber-sumber biaya lingkungan. Proses produksi dapat menciptakan residu. Residu ini memiliki potensi mendegradasi lingkungan.Makadari itu residu merupakan penyebab biaya kegagalan lingkungan internal dan eksternal. Selain itu pengemasan juga merupakan sumber biaya lingkungan. Produk sendiri juga dapat menjadi sumber biaya lingkungan. Setelah menjual produk, penggunaan, dan pembuangan oleh pelanggan dapat mengakibatkan degradasi lingkungan. Hal ini contoh biaya lingkungan pascapembelian(environment postpurchase cost).
Biaya Produk Lingkungan
Penghitungan biaya lingkungan penuh (full environmental product costing) adalah pembebanan semua biaya lingkungan, baik yang bersifat privat maupun sosial, keproduk. Penghitungan biaya privat penuh (full privat costing) adalah pembebanan biaya privat ke produk individual. Jadi penghitungan biaya privat membebankan biaya lingkungan yang disebabkan oleh proses internal organisasi produk. Penghitungan biaya privat mungkin merupakan titik awal yang baik bagi perusahaan. Biaya privat dapat dibebankan dengan menggunakan data yang dihasilkan didalam perusahaan. Biaya penuh memerlukan pengumpulan data yang dihasilkan di luar perusahaan. Ketika perusahaan mulai berpengalaman dengan penghitungan biaya lingkungan, pembebanan biaya produk dapat diperluas dan mengimplementasikan pendekatan yang disebut penilaian biaya siklus hidup (life-cyclecost assessment). Pembebanan biaya lingkungan pada produk dapat menghasilkan informasi manajerial yang bermanfaat. Dengan membebankan biaya lingkungan yang tepat, juga dapat diketahui apakah produk tersebut menguntungkan atau tidak.


Pembebanan Biaya Lingkungan Berbasis Fungsi
Dengan menggunakan definisi biaya lingkungan dan kerangka kerja klasifikasi yang baru dikembangkan, biaya lingkungan pertama-tama harus dipisahkan kedalam kelompok biaya lingkungan. Setelah dipisahkan dalam kelompok sendiri, penghitungan biaya berbasis fungsi (functional-based costing) akan membebankan biaya tersebut ke produk individual dengan menggunakan penggerak tingkat unit seperti jumlah jam tenaga kerja dan jam mesin. Pendekatan ini dapat berjalan dengan baik untuk produk yang homogen akan tetapi dalam perusahaan yang memiliki produk yang bervariasi, pembebanan berbasis fungsi dapat menyebabkan distorsi biaya.
Pembebanan Biaya lingkungan Berbasis Aktivitas
Munculnya penghitungan biaya berbasis aktivitas (activity-based costing ) memfasilitasi penghitungan biaya lingkungan. Penelusuran biaya lingkungan keproduk-produk yang menyebabkan biaya-biaya tersebut merupakan syarat utama dari sistem akuntansi lingkungan yang baik. Dalam hal ini penbebanan biaya dengan menggunakan hubungan sebab akibat.

3. Penilaian Biaya Siklus Hidup
Biaya produk lingkungan dapat menunjukan kebutuhan untuk meningkatkan pembenahan produk perusahaan. Pembanahan produk (product stewardship) adalah praktik mendesain, membuat, mengolah dan mendaurulang produk untuk meminimalkan dampak buruknya terhadap lingkungan. Penilaian siklus hidup adalah sarana untuk meningkatkan pembenahan produk. Penilaian siklus hidup (life-cycle assessment) mengidentifikasi pengaruh lingkungan dari suatu produk disepanjang siklus hidupnya dan kemudian mencari peluang untuk memperoleh perbaikan lingkungan. Penilaian biaya siklus (life-cycle cost assessment) membebankan biaya dan keuntungan pada pengaruh lingkungan dan perbaikan.
Siklus Hidup Produk
EPA mengidentifikasikan empat tahap dalam siklus hidup produk ekstraksi sumber daya, pembuatan produk, penggunaan produk, serta daur ulang dan pembuangan. Tahap lain yang mungkin ada, namun tidak disebutkan dalam garis petunjuk EPA, adalah Pengemasan Produk. Jika sistem akuntansi biaya akan memainkan peranan dalam penilaian siklus hidup, maka langkah yang paling nyata adalah menilai dan membebankan biaya lingkungan yang disebabkan oleh produsen dalam setiap tahapan siklus hidup.

Tahapan penilaian

Penilaian siklus hidup disefinisikan oleh tiga tahapan formal : (1) analisis persediaan, (2) analisis dampak, (3) analisis perbaikan. Analisis persediaan (inventory analysis) menyebutkan jenis dan jumlah input bahan baku dan energi yang dibutuhkan serta pelepasan ke lingkungan yang dihasilkan dalam bentuk residu, padat, cair, dan gas. Analisis persediaan mencakup seluruh siklus hidup produk. Analisis dampak (impact analiysis) menilai pengaruh lingkungan dari beberapa desain bersaing dan menyediakan peringkat relatif dari pengaruh-pengaruh tersebut. Analisis perbaikan (improverment analysis) bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan yang ditunjukkan oleh tahap persediaan dan dampak. Analisis Lingkungan penilaian dampak lingkungan dalam istilah operasional dan keuangan menetapkan tahap untuk langkah terakhir, yaitu mencari cara untuk mengurangi dampak lingkungan dari alternatif-alternatif yang dipertimbangkan atau dianalisis. Langkah inilah yang berhubungan dengan sistem pengendalian organisasi. Perbaikan kinerja lingkungan dari produk dan proses yang ada merupakan tujuan keseluruhan dari sistem pengembalian lingkungan.

4. Akuntansi Pertanggungjawaban Lingkungan Berbasis Strategi
Tujuan keseluruhan dari perbaikan kinerja lingkungan mengusulkan bahwa kinerja perbaikan berkelenjutan untuk pengendalian lingkungan adalah yang paling sesuai. Dalam kenyataanya, sebuah perspektif lingkungan kemungkinan adalah perspektif kelima dari kerangka kerja Balanceed Scorecard.
Sistem manajemen lingkungan berbasis strategi (strategic-based environmental management system) menyediakan kerangka kerja operasional untuk memperbaiki kinerja lingkungan. Sebagai contohnya, perspektif lingkungan perlu dihubungkan dengan perspektif proses untuk memperbaiki kinerja lingkungan. Pengetahuan mengenai akar penyebab dari aktivitas lingkungan merupakan dasar untuk setiap perubahan desain proses yang dibutuhksn untuk memperbaiki kinerja lingkungan. Jadi, kerangka kerja balanced scorecard menyediakan tujuan dan ukuran terpadu untuk mencapai keseluruhan tujuan dari perbaikan kinerja lingkungan.

Perspektif Lingkungan
Kita dapat mengidentifikasi sekurang-kurangnya lima ttujuan inti dari perspektif lingkungan :
1. Meminimalkan penggunaan bahan baku atau bahan yang masih asli
2. Meminimalkan penggunaan bahan berbahaya
3. Meminimalkan kebutuhan energi untuk produksi dan penggunaan produk
4. Meminimalkan pelepasan residu padat, cair, dan gas
5. Memaksimalkan peluang untuk daur ulang.
Ada dua tema lingkungan yang terkait dengan bahan baku dan energi (tiga tujuan ini utama)
1. Tidak ada lagi energi atau bahan baku yang digunakan melebihi dari yang dibutuhkan (isi konservasi).
2. Harus dicari sarana untuk menghilangkan penggunaan bahan baku atau energi yang merusak lingkungan (isu zat yang berbahaya).
Ukuran kinerja harus mencerminkan kedua tema ini. Jadi, ukuran-ukuran yang memungkinkan adalah berapa jumlah kuantitas total dan perunit dari berbagai bahan baku dan energi (misalnya, berat bahan kimia beracun yang digunakan), ukuran produktivitas (output/bahan baku, output energi), dan biaya bahan (energi) berbahaya yang dinyatakan sebagai persentase total biaya bahan baku.
Tujuan inti keempat dapat direalisasikan dalam salah satu dari dua cara berikut :
1. Mengunakan tekhnologi dan metode untuk mencegah pelepasan residu, ketika diproduksi.
2. Menghindari produksi residu dengan mengidentifikasi penyebab dasar dan mendesain ulang produk dan proses untuk menghilangkan penyebab-penyebabnya.
Dari kedua metode tersebut, metode yang kedua lebih disukai. Metode pertama mirip dengan pemerolehan kualitas produk melalui pemeriksaan dan pengerjaan ulang (memeriksa kualitas).
Tujuan kelima menekankan konservasi sumber daya yang tdak dapat diperbarui melalui penggunaan kembali. Daur ulang mengurangi permintaan untuk ekstraksi tambahan bahan baku. Daur ulang juga mengurangi degradasi lingkungan dengan mengurangi pembuangan sampah oleh pemakai akhir. Ukurannya mencakup berat bahan baku yang di daur ulang, jumlah bahan baku yang berbeda-beda (semakin sedikit, semakin banyak untuk daur ulang), persentase unit yang dibuat ulang, dan energi yang diproduksi dari pembakaran.
Peran Manajemen Aktivitas
Analisi aktivitas lingkungan penting untuk sistem pengendalian lingkungan yang baik. Identifikasi aktivitas lingkungan dan penilaian biayanya merupakan persyaratan untuk penghitungan biaya lingkungan berbasis aktivitas. Pengetahuan mengenai biaya lingkungan dan produk atau proses apa yang menyebabkan nya merupakan hal yang sangat penting sebagai langkah pertama untuk pengendalian. Selanjutnya, aktivitas lingkungan harus diklasifikasikan sebagai bernilai tambah ( value-added) dan tak bernilai tambah (nonvalue-added).
Aktivitas tak bernilai tambah adalah aktivitas yang tidak perlu ada jika perusahaan beroperasi secara optimal dan efisien. Aktivitas gagal bukanlah satu-satunya aktivitas yang bernilai tambah. Banyak aktivitas deteksi seperti pemeriksaan jug merupakan aktivitas tak bernilai tambah.
Biaya lingkungan tak bernilai tambah adalah biaya dari aktivitas tak bernilai tambah Biaya ini mewakili keuntungan yang dapat ditangkap dengan cara memperbaiki kinerja lingkungan. Kunci untuk menangkap keuntungan ini adalah dengan mengidentifikasi akar penyebab aktivitas yang tak bernilai tambah dan kemudian mendesain ulang produk dan proses untuk meminimalkan dan akhirnya menghilangkan aktivitas yang tidak bernilai tambah tersebut.

Desain untuk Lingkungan
Pendekatan desain khusus ini disebut desain untuk lingkungan (design for the environment). Desain ini menyentuh produk, proses, bahan baku, energi, dan daur ulang. Dengan kata lain, keseluruhan daur hidup produk dan pengaruhnya terhadap lingkungan harus dipertimbangkan.
Ukuran Keuangan
Perbaikan lingkungan harus menghasilkan keuntungan keuangan yang signifikan. Hal ini berarti bahwaa perusahaan telah mencapai trade-off yang menguntungkan antara aktivitas yang gagal dan aktivitas pencegahan. Jika keputusan ekoefisien yang dibuat, maka total biaya lingkungan harus terhapus bersamaan dengan perbaikan kinerja lingkungan. Jadi, tren biaya lingkungan merupakan ukuran kinerja yang penting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar